Category Archives: Fiqih Dakwah

Cahaya Kampus Dari Timur

Adalah Yudhi AW dengan”Purnama dari Timur”nya mampu dengan piawai menggambarkan suasana perjalanan Syekh Maulana Malik Ibrahim yang meninggalkan Persia dan di kemudian hari menjadi sunan Maulana Malik Ibrahim atau sunan Gresik. Ketika membaca Novel Sejarah yang berlatar Majapahit tersebut, terbayang bagaimana Sunan Maulana Malik Ibrahim yang sudah tua itu menghadapi sebuah pulau yang sama sekali asing, bahasa, ras, dan agama yang ada di dalamnya pun berbeda dengan apa yang dikuasai oleh sang Maulana. Majapahit, dengan kedigdayaannya bahkan mampu menundukkan Samudra Pasai yang nun jauh di sana. Namun, keteguhan dan ketenangan hati, serta keyakinan yang mantaplah yang membuat sunan gresik itu mampu membayangkan masa depan pulau Jawa Dwipa yang Hindu-Budha itu akan menjadi basis kekuatan islam.

Sama halnya dengan da’i-da’i besar kontemporer yang mampu menatap masa depan dengan keteguhan dan kegigihan untuk meraihnya. Hasan Al-Banna dengan pemikiran-pemikirannya telah meletakkan batu pondasi pergerakan dakwah kontemporer sekaligus pergerakan pemuda islam yang modern. Ia telah menginfakkan hidupnya di jalan dakwah di tengah-tengah kekacauan yang melanda ummatnya. Batu-batu pondasi dakwah kontemporer itu, kini telah menjadi bangunan yang mendunia yang kini semakin dirasakan keberadaannya.

Lalu, bagaimana dengan kita? Kampus yang kecil, yang di dalamnya tidak pernah ada pengancam islam atau Majapahit yang selalu mengintai, atau pasukan Inggris sebagaimana yang terjadi di Mesir ketika Hasan Al-Banna berdakwah. Apakah kita dapat merasakan sebuah perubahan besar akan kita ciptakan di hadapan kita? Pertanyaan itu tentulah menjadi pertanyaan buat diri kita bersama, yang tentu kita sendirilah yang harus menjawabnya. Sebagai Pemuda, yang disebut-sebut dalam “MajmuAtur-rasail”  bahwa  sesungguhnya pemikiran akan sukses manakala keimanan kepada-Nya kuat, tersedia keikhlasan di jalannya, semangat untuk memperjuangkan islam semakin bertambah, dan ada kesiapan untuk berkorban dan beramal untuk mewujudkannya.

Melihat kampus, lalu melihat diri kita sebagai seorang aktivis muslim, tentu kita tidak akan membiarkan kampus ini mubazir terlewatkan tanpa perubahan apapun. Kalau Yudhi AW mengibaratkan Sunan Maulana Malik Ibrahim sebagai Purnama dari Timur, maka kita adalah cahaya Kampus yang juga dari timur.

Rilis tulisan oleh: Deni Yuniardi (Aktivis KAMMI Unila14)

Editor dan redaktur: WHD

 

AMAL BISA BATAL? Ini Dia Penyebabnya

Seorang Mukmin beribadah kepada Allah عزّوجلّ dengan penuh cinta, harap disertai rasa cemas. Cinta kepada Allah عزّوجلّ karena banyak sekali nikmat yang telah Dia limpahkan kepada hamba-Nya; Beribadah dengan penuh harap bisa meraih rahmat dan ampunan-Nya; sedangkan cemas maksudnya khawatir terkena siksa-Nya, juga khawatir amal yang dilakukannya gugur disebabkan perusak-perusak amal. Karena amalan itu bisa gugur dengan berbagai sebab sebagaimana diterangkan oleh Allah عزّوجلّ dan Rasul-Nya. Allah عزّوجلّ berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ

Wahai orang-orang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu. (QS. Muhammad/47:33)

Tentang ayat ini, Imam Ibnu Katsir رحمه الله mengatakan, “Kemudian Allah عزّوجلّ memerintahkan para hamba-Nya yang beriman untuk mentaati-Nya dan mentaati Rasul-Nya, karena ketaatan itu merupakan kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat. Allah عزّوجلّ juga melarang mereka dari murtad yang akan bisa membatalkan seluruh amalan. Oleh karena itu, Allah عزّوجلّ berfirman, “janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu”, maksudnya dengan kemurtadan”. (Tafsir Ibnu Katsir, surat Muhammad, ayat ke-33).

Berdasarkan nash-nash dari al-Qur’an dan as-Sunnah, dapat diketahui bahwa perusak amal itu ada dua macam:

(1) Perusak sebagian amal, seperti riya’ dalam ibadah, atau berbagai jenis kemaksiatan sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits yang shahih.

(2) Perusak amal secara total, yaitu ada ada empat macam: seperti; kekafiran, kemusyrikan, kemunafikan, dan kemurtadan.

Sebagai seorang Mukmin, adalah menjadi sebuah keharusan bagi kita untuk memahami segala macam perusak amal itu, kemudian menjauhinya, agar kita selamat dan bisa meraih kebaikan yang kita inginkan dengan amal shalih kita.

Rilis tulisan oleh: Ustadz. Prastyo Ari Wibowo

 

Setiap Yang Bernyawa Pasti Diuji (Tafsir Q.S: Al-Baqarah: 286)

Ujian menyerang siapa saja tidak pandang bulu. Sebagaimana orang miskin diuji… orang kayapun demikian. Sebagaimana rakyat jelata hidup di atas ujian… para penguasa juga diuji. Bahkan bisa jadi ujian yang dirasakan oleh para penguasa dan orang-orang kaya lebih berat daripada ujian yang dirasakan oleh orang-orang miskin dan rakyat jelata.

Jangan disangka hanya si miskin yang menangis akibat ujian yang ia hadapi…, atau hanya si miskin yang merasakan ketakutan… bahkan seorang penguasa bisa jadi lebih banyak tangisannya dan lebih parah ketakutan yang menghantuinya daripada si miskin. Intinya setiap yang bernyawa pasti diuji sebelum maut menjemputnya… siapapun juga orangnya. Entah diuji dengan kesulitan atau diuji dengan kelapangan, kemudian ia akan dikembalikan kepada Allah untuk dimintai pertanggung jawaban bagaimana sikap dia dalam menghadapi ujian tersebut. Ingatlah firman Allah di dalam kitab suci Al-Qur’an yang artinya:

“Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Q.S:Al-Baqarah: 286)

Oleh: Ustadz. Prastyo Ari Wibowo

Kembali pada Kehidupan ala Rasulullah SAW

Dewasa ini kita ketahui bersama bahwa kehidupan berjalan semakin dinamis dan praktis bahkan serba instan. Hampir disetiap kebutuhan manusia dapat dipenuhi dengan proses yang begitu cepat dan instan. Dari bangun tidur sampai tidur kemblali dapat ditunaikan kebutuhan nya dengan beragam peralatan yang sangat canggih. Tak pelak sesuatu yang serba instan akan menimbulkan beragam penyakit karena  menyumbang beragam bahan kimia yang tidak dibutuhkan dalam tubuh sehingga menimbulkan penyakit.

Sesungguhnya rasulullah saw telah mencontohkan bagaimana pola hidup sehat. Dan jika melihat masyarakat Indonesia yan gnotabene 90% adalah ummat islam maka sudah seharusnya negeri Indonesia merupakan negeri dengan penduduk yang sehat dan kuat. Namun sebaliknya , menurut data dari BPS tahun 2013 menunjukkan bahwa angka kemiskinan di Indonesia mencapai 16,7% dari total warganya dan hampir 80% nya memiliki penyakit baik yang tingkat ringan hingga yang akut. Dengan melihat biaya kehidupan yang semakin mahal maka sudah tentu kesehatan warga miskin sulit terwujud. Seharusnya dengan masyarakat muslim terbesar didunia Indonesia menunjukkan sebagai Negara yang sehat dan bersih. Mengapa demikian ? karena sesungguhnya islam telah mengajarkan dari hal yang paling sederhana yaitu kebersihan dan kesehatan diri hingga yang paling rumit sekalipun yaitu mengatur kenegaraan. Bila kejadiannya seperti ini , berarti nilai-nilai keislaman belum diejawantahkan dengan baik, terutama kesehatan.

Kesehatan merupakan pangkal kenikmatan duniawi, bila jasmani dan rohaninya sehat maka segala hal yang dikerjakan dapat dirasakan dengan baik. Lalu bagaimana sesungguhnya islam mengatur kesehatan ummatnya ? dari awal sudah dijelaskan tentang kebersihan seperti hadist  “ kebersihan adalah sebagian dari pada iman “ hadist ini menunjukkan pentingnya kedudukan kebersihan. Belum lagi dalam menangani penyakit yang sulit sekalipun sesungguhnya islm juga telah menjelaskan obat dari setiap penyakit seperti hadist “ sesungguhnya obat penyakit itu ada tiga kecuali tua, yaitu madu, bekam dan kay  Tapi aku melarang umat ku menggunakan kay “. Setelah dikaji melalui kedokteran modern ternyata madu mengandung begitu banyak manfaat untuk kesehatan belum lagi dengan bekam yang sungguh sangat menunjukkan keajaiban dalam menyembuhkan penyakit. Ini merupakan pengobatan yang masih dan praktis karena sesungguhnya sembuh itu adalah keberkahan dari allah swt dan pengobatan merupakan sarana dalam rangka ihtiar.

Selain dengan yang dijelaskan diatas, rasulullah juga mencontohkan pola hidup sehat  yaitu dengan puasa. Menurut penelitian modern puasa merupakan terapi yang baik, karena seseorang yang rajin berpuasa dengan rutin akan dapat menurunkan asam lambung, mengontrol glukosa, kolesterol terjaga, tensi darah normal, mengubah lemak jadi energy, yang merupakan berbagai macam sumber penyakit. Rasul pun mengajarkan untuk rajin berolahraga sebagai sarana menjaga kebugaran tubuh. Selanjutnya dengan tata cara makan, dicontohkan dengan tidak terlalu kenyang, karena di dalam tubuh manusia harus terdapat rongga yang menyisakan untuk udara dan air agar urat dan syaraf serta kerja jantung dapat bersinergi yang baik untuk menghasilkan kualitas darah dan karbohidrat yang memadadi, ini pun dicontohkan dengan begitu baik oleh rasulullah saw. Dan yang sangat luar biasa allah swt berikan ke ummat islam adalah Sholat. Ternyata dalam kewajiban ummat islam menjalankan sholat allah swt memberikan rahmat yang tiada tanding selain pahala dan ketenangan jiwa ternyata gerakan-gerakan sholat yang dilakukan dengan baik dan benar merupakan terapi yang baik bagi tubuh dan olah raga yang tepat bagi tulang dan pernapasan manusia.

Inilah keajaiban kehidupan ala rasulullah saw. Jika memang masyarakat msikin di Indonesia begitu banyak maka perlu diberitahu dan diajarkan tentang kehidupan ala rasulullah yang sehat dan pastinya akan semakin memperbaiki kehidupan Indonesia secara menyeluruh.

rilis oleh: Joko Budianto