Cerita Inspiratif: IT’S MY MOM

 

Kiriman ke 14 Peserta Lomba Menulis Cerita Inspiratif. Oleh Saudari Ernawati di FISIP Unila

IT’S MY MOM

Mama, bunda, umi, ibu, emak atau apapun itu sebutannya, it’s the one miracle thing in my life.
Lidah ini terasa kaku ketika otakku memikirkan tentang ibu. Seolah tak ada satu katapun yang mampu terucap untuk menggambarkan bagaimana hebatnya seorang ibu. Aku tidak tahu bagaimana ibu lainnya yang ada di luar sana, mungkin mereka tak sehebat ibuku, atau mungkin sama hebatnya dengan ibuku, atau mungkin bisa saja lebih hebat dari ibuku. Entahlah, tapi yang selalu ada dalam otakku,ibuku yang terhebat.
Aku terlahir dari rahim seorang wanita bernama Siti Rohmah 20 tahun yang lalu. Aku tak pernah tahu bagaimana kehidupan ibuku dimasa lalu, tapi yang aku dengar kehidupan itu sangatlah pahit. Aku tak tahu bagaimana jadinya aku jika aku ada di posisi ibu saat itu. Mungkin aku sudah berlari sekencang mungkin meninggalkan kehidupan sengsara yang beliau alami saat itu. Tapi ibuku terlalu kuat dan tegar, beliau tetap bertahan demi anak-anaknya dan pengabdiannya pada seorang suami.
Hari itu, sekitar pukul 7 pagi 9 tahun yang lalu sebuah mobil angkot ungu berbelok ke halaman rumah kami. Saat itu aku hendak berangkat sekolah, aku dan ibu terheran kenapa mobil itu berbelok kerumah kami. Kami berfikir mungkin sanak saudara kami yang jauh di sana datang, tapi ternyata salah. Mobil itu datang mengantar ayah pulang. Terlihat perban membalut kening dan satu lagi membalut dari leher kebahu secara menyilang. Ayahku kecelakaan.
Berbulan-bulan tulang punggung kami hanya terdiam ditempat tidur. Menjalani pengobatan baik medis maupun tradisional untuk tulang penyangga antara leher dan pundaknya yang patah. Cobaan besar untuk keluarga kami. Tapi ibu memang sungguh luar biasa, kini beliau menggantikan posisi ayah. Menjadi tulang punggung keluarga ini. Memang tidak banyak yg bisa ibu lakukan. Berusaha, bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga ini. Mungkin karena saat itu aku baru kelas empat SD, aku belum begitu mengerti kesedihan yang ibu rasakan. Layaknya anak lainnya, aku malah bermain dengan sanak saudara yang jadi sering datang ke rumah untuk menjenguk ayah.
Ayah secara perlahan berangsur membaik. Tapi ini bukan berarti membuatnya bisa seperti dulu. Yang kuat dan bisa mengerjakan apapun layaknya ayah lainnya yang memiliki tanggung jawab sebagai tulang punggung keluarga. Ayahku tak lagi sekuat dulu, beliau kini memang bisa kembali bekerja, namun hanya yang ringan-ringan saja. Tidak boleh terlalu lelah. Ini karena tulang yang patah dan tak pulih secara sempurna, mungkin karena factor usia atau entah apa.
Apapun ibu kerjakan agar kebutuhan kami dapat terpenuhi. Mulai dari berkebun, membuat makanan kecil untuk dititipkan diwarung-warung dekat rumah, hingga berjualan kecil-kecilan dipasar sayur yang hanya buka hingga pukul 10 pagi saja.
Setiap subuh, sekitar pukul 04.00 disaat kami semua sedang terlelap ibu sudah bergegas untuk berangkat kepasar. Terkadang ia sudah selesai menyuci pakaian dan menyiapkan sarapan untuk kami. Dengan sepeda mini merah yang ibu punya, beliau berangkat kepasar. Berebut dagangan dan pelanggan dengan pedagang lainnya. Berusaha menjajakan dagangan terbaiknya. Demi kami, anak dan suaminya.
Tak pernah sekalipun aku melihat ibu mengeluh tentang apa yang beliau kerjakan, apalagi wajah sesal terhadap hidup yang harus beliau jalani. Kini aku beranjak besar, mulai mengerti kesusahan, perjuangan dan pengorbanan yang ibu lakukan. Pernah sesekali disaat liburan, aku membantu ibu. Terutama saat liburan bulan ramadhan. Aku berusaha sebisa mungkin membantu ibu, meringankan beban beliau dan membuatnya sedikit tersenyum. Biasanya, disaat bulan ramadhan, dagangan ibu bertambah. Disinilah tenagaku dibutuhkan. Setelah makan sahur,kami bergegas pergi kepasar yang mungkin berjarak 2.5 Km dari rumah kami. Setibanya di sana ibu langsung mencari dagangan untuk kami jual pada hari itu. Disaat itu, aku menyiapkan peralatan yang akan digunakan dan melayani beberapa pelanggan yang mulai berdatangan. Terbesit dalam hatiku, “ya allah, jadi seperti ini sulitnya berjualan, dan ibu menjalaninya setiap hari. Ibuku memang luar biasa”.
Hari itu mataku terasa begitu berat, sepulang dari pasar aku langsung masuk ke dalam kamar dan tidur. Tak lama ibupun ikut masuk, mataku memang terlihat terpejam, namun aku masih sedikit sadar. Ku rasakan belaian ibu dirambutku, terdengar pelan suara ibu “capek ya nak?” tapi aku diam. Sedikit ku lihat wajah ibu, tergambar sedih melihatku yang kelelahan. Tapi aku hanya diam, hanya mampu mengucap dalam hati, “erna gak capek buk, ibuk lebih capek dan erna juga sedih liat ibuk capek setiap hari.” Tanpa ku sadari air mata ini membasahi bantal dan ku harap ibu tidak melihatnya.
Suatu hari kedua adikku bertengkar, memang hal yang biasa melihat mereka bertengkar, tapi hari itu suasana hatiku sedang tidak baik. Aku begitu kesal melihat mereka bertengkar yang tidak ada habisnya. Lalu ku marahi keduanya, dan akhirnya si bungsu yang menangis. Adik bungsuku memang sangat nakal, selain karena ia anak laki-laki satu-satunya, ia juga yang paling kecil di antara kami. Tapi ibu terlalu sabar bagiku. Dan menurutku ini yang membuat adikku semakin manja. Aku tak pernah bisa seperti ibu yang begitu sabar menghadapi adikku yang menurutku luar biasa nakal. Belum lagi ayahku yang emosional. Ibu selalu bisa membuat ayah lebih tenang. Terkadang aku tidak merasa betah ada dirumah, aku tak cukup sabar mendengar kebisingan rumah itu. Pernah ku berfikir, mungkin ini yang sering orang-orang sebut “malaikat terindah dalam hidup”. Inilah ibuku. :’)

comments

 

Berita Terkait :