Cerpen Islami: Cahaya Dipinggiran

 

Cerpen Karya: Wahid Biyobe (Ketua Bidang MCU Birohmah 2012/2013)

Cahaya Dipinggiran—Sehari sebelum kepergiannya dari desa yang kucintai ini, dia begitu memberi kenangan yang begitu berarti dalam hidup ini. Beribu canda tawa bahkan kesedihan telah kami lakukan demi persahabatan dan ukhwah yang terus berjalan. Mungkin tak akan terlupakan lagi dari pagi menuju siang, siang menuju sore, sore menuju malam,dan malam menuju pagi, dan semua berputar pada poros sunahtullahnya. Setiap hari ini lebih berdaya dan berarti ketika ada dia,namun tidak terlalu berat hati ini jika kepergiaannya akan mengakhiri perjumpaan yang selama ini telah terbentuk.

Buat aku itu tidak terlalu gampang dalam melupakan semua ini..dia begitu banyak mengajarkanku kehidupan yang sesungguhnya, bahkan tak lepas dari itu segala ilmu agama, fikih, dll dia ajarkan kepadaku hingga perubahan secara perlahan telah aku terima dan sampai saat ini aku bisa merasakan ilmu yang dia berikan.

Sore itu sekitar pukul  16:30 cuaca di desa kami tidak begitu bersahabat,awan mendung dan berkabut hitam mewarnai awang-awang senja itu, angin bergerak sepoi-sepoi dan menggugurkan daun-daun mahoni di sudut lembah bagian timur pondok kami, perlahan-lahan rintikan air hujan turun diikuti halilintar kecil yang cukup menggetarkan hati kami.

Desa kami sangat jauh dari pusat keramaian kota, telah berbulan bulan yg lalu telah terjadi kemarau panjang dan cukup merepotkan penduduk di desa kami. Kami pun harus mencari sumber mata air yang berada di desa sebelah,tak hanya itu sumber pencaharian petani pun terganggu, rumput-rumput kering sehingga ternak sulit mencari makanannya, daun-daun pepohonan mulai menggundul hingga bukit-bukit terlihat pasti tanah-tanahnya yang mulai memerah,gersang,bahkan panas seharian yang melelahkan aktivitas penduduk telah membuat penduduk menjadi lelah…

Desa kami terletak di provinsi lampung, tepatnya di Lampung Selatan. Nama desa kami adalah Kampung Madu. Sebagian besar penduduk kami bermata pencaharian sebagai petani, hasil pertanianlah yang menghantarkan mereka pada kesuksesan, namun rata-rata penduduk di desa kami hanya mampu menyekolahkan anaknya hingga bangku SMA. Dan mereka ada yang langsung mencari kerja setelah lulus sekolah dasar, sekolah tingkat pertama, bahkan setelah lulus sekolah menengah umum atau kejuruan. Tapi semua itu mereka lakukan hanya semata-mata untuk membantu mata pnghasilan keluarga.

Mencari pekerjaan di kecamatan kami pun sangat susah, tak berbeda dengan mencari pekerjaan seperti di kota-kota besar di Indonesia lainnya, misalnya di Kota Jakarta dan Bandung. Pekerjaan yang tersedia hanya sebatas buruh pabrik kecil, buruh bangunan dan proyek atau pabrik. Tak hanya itu mereka pun ada yang berdagang di kios-kios pasar maupun yang berada di rumah mereka, barang-barang yang dijualkannya semisal barang-barang pemenuh kebutuhan sehari-hari saja.

Di sudut bukit yang gundul dan terlihat memerah tanahnya terlihat sekelompok perumaahan penduduk dan pondok kecil .Udara saat itu terasa panas,matahari sedikit condong ke arah barat meskipun saat itu masih menunjukan sekitar pukul 14 sore,burung-burung berterbangan di atas angkasa, dan terlihat ternak-ternak penduduk yang sedang memakan rumput yang menghampar seluas sawah-sawah yang berada di sampingnya.

Saya telah berjalan hampir lima belas menit mengikuti jalan setapak di pertigaan jalan dari kampung madu…. (Bersambung ya). Silahkan untuk melanjutkan membaca cari label di samping kanan website ini dengan label: Cerita Islami.

 

comments

 

Berita Terkait :