Cerita Inspiratif: Aku Harus Setangguh Ibu

 

Kiriman ke 13 Peserta Lomba Menulis Cerita Inspiratif. Oleh Saudara Septian Ulan Dini di FKIP Unila

Aku Harus Setangguh Ibu

”Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui” (QS.AL-Baqoroh:216).
***
Kupandangi terus monitor komputer warnet itu.
Batinku rancu.
“FKIP Pendidikan Fisika Unila”
Begitulah kalimat yang terekam jelas di memoriku, aku di terima di UNILA ? … Tapi benarkah aku diterima di sana ? … Bukan di pilihan utama ku ?
Astaghfirullah .Cepat-cepat kutampik pikiran itu.
Alhamdulillah. Qodarullah wa maa syaa’a fa’ala ( Semua telah ditakdirkan oleh Allah dan Allah berbuat sesuai kehendaknya). Terkadang keinginan memang tidak sama dengan takdir-Nya. Aku berusaha keras untuk menerimanya.
Kumulai hari baruku dengan predikat mahasiswa. Panas terik matahari, bersinar. Terlihat bayang-bayang fatamorgana didepan aspal yang aku lewati. Panas sekali. Angkot yang aku tumpangi pun, malaju dengan kecepatan yang sedang. Kulangkahkan kakiku dengan bismillah, menuju gedung G yang jaraknya cukup jauh dari tempat pemberhentian angkot. Untunglah, jilbab yang mengurai lebar dan besar membuat keringatku tertahan. Tak sabar rasanya bertemu teman , dosen-dosen dan juga ilmu-ilmu baru.

Minggu-minggu awal kuliah , semangatku masih semangat baru. Namun masalah mulai datang seiring berjalannya waktu. Dari tugas struktur, laporan yang saling kejar-mengejar deadline sampai kuis-kuis yang menantang. Rasanya semangatku tergerus waktu. Apalagi kalau teringat cita-cita awalku dulu. Enggineer … bukan teacher.

***
Gelap seakan menelan keramaian. Jalanan mulai lengang. Suara hewan-hewan malam sayup-sayup terdengan dari kamar kosan. Seperti biasa , aku masih terjaga dengan kertas-kertas A4 bertebaran. Laporan praktikum. Ah, aku bosan.
Kantuk mulai menyerang, kulepaskan pena dari genggaman. Kulemaskan otot-otot tubuhku. Dalam kesunyian. Tiba-tiba aku rindu sosok ibuku. Tergambar jelas apa yang biasanya Ibu lakukan di malam selarut ini. Biasanya ibu sedang mengoreksi jawaban dari lembaran tugas ataupun ulangan anak anak SD . Atau kalau tidak , ibu sedang belajar bersama adik-adikku. Kewajiban yang terbalut keikhlasan. Itulah senjata melawan rasa kantuk yang datang menyerang. Keihlasan ? entahlah. Apakah aku sudah ikhlas atau belum.
***
Ibu adalah seorang guru honor di salah satu sekolah dasar.
“Sudah ibu pikirkan masak-masak ?” Aku tak sengaja mendengar percakapan itu lima tahun lalu. Mereka sedang duduk di halaman. Mengantarkan senja yang hampir tenggelam di Barat.
“Sudah pak ” Jawab ibu mantap. Ibu tidak ingin bapak menangkap sinyal keraguan. Tawaran mengajar Bahasa Inggris di salah satu SD swasta itu memang telah dipikirkan Ibu masak-masak. Ibu tidak mau menyianyiakan kesempatan ber’amal jariah itu. Cita-cita Ibu waktu kecil memang ingin menjadi guru. Tapi saat itu Ibu melanjutkan sekolah di SMK karena tuntutan keluarga. Ibu memang lulusan SMK ,tapi kemampun Ibu dalam berbahasa Inggris cukup baik.
Setelah menerima tawaran mengajar itu, Ibu memulai rutinitas baru sebagai guru. Awalnya ini adalah rutinitas Ibu untuk mengisi waktu-waktu senggang. Lama kelamaan, prestasi mengajar Ibu tidak kalah dengan guru-guru lain yang memang berlatar belakang sarjana kependidikan. Jam mengajar Ibu semakin padat. Dan qodarullah, seiring dengan hal itu kondisi perekonomian keluarga mulai terancam. Ibu berfikir keras, apa yang harus Ibu lakukan untuk membantu bapak memenuhi kebutuan keluarga. Gaji Ibu sebagai guru honor sangat jauh dari kata cukup untuk kebutuhan rumah tangga, apalagi biaya sekolah dan lain sebagainya. Akhirnya, Ibu berinisiatif membuka bimbingan belajar di rumah untuk anak SD , dan menjual beberapa jenis gorengan.
***
Subuh masih menyisakan gelap. Namun kokok ayam tetangga sudah ribut hendak bertasbih. Kokok itu melengking membelah tipisnya kabut dan hawa dingin yang menyelimuti. Adzan subuh pun terdengar memanggil dari arah masjid . Mataku masih terbalut kantuk saat aku mendengar suara berisik dari arah dapur. Terdengar jelas dari balik kamarku yang hanya dibatasi dinding kayu. Ibu rupanya sudah bangun sedari tadi. Berjibaku dengan kompor, wajan, panci dan kukusan. Menyiapkan sarapan pagi sederhana sekaligus menyiapkan tekwan hangat dan gorengan untuk dijual di sekolah tempat ibu mengajar.
“Sudah bangun mbak ?” suara lembut Ibu menyapa ketika aku hendak berwudhu.
“Iya bu, kesiangan” ucapku malu karena Ibu bangun lebih dulu.
“Ya sudah, sholat dulu sana. ” balas Ibu.
Aku bergegas menunaikan sholat. Dan mulai membantu Ibu membungkus makanan yang akan dijual. Matahari kian terlihat.Itu tandanya, aku harus berangkat ke sekolah.
Seperti biasa, ketika aku pulang sekolah Ibu juga sampai di rumah. Batinku kelu setiap aku melihat Ibu turun dari angkutan umum. Sambil menggendong adik kecilku yang berusia satu tahun, menuntun adikku yang duduk di kelas 3 SD. Dan dibahu ibu , tersampir tas berisi silabus, RPP, dan buk-buku pelajaran. Senyum Ibu membiaskan garis-garis wajah lelahnya. Kegiatan Ibu belum selesai sampai di sini saja. Ba’da ashar ada kelompok anak-anak yang belajar dengan Ibu. Dan ketika malam menjelang … aktivitas Ibu terus berlanjut sampai larut.
“Allah sedang menempa pribadi tangguhmu. Dalam butiran air matamu. Dalam teriakan batinmu. Dan dalam rintihan sesaknya nafasmu. Bersabarlah wahai ibu . Tak perlu kau simpan luka itu. Percayalah, kita pasti bisa melaluinya. Innallaha ma’ana“. bisikku ketika Ibu terlelap dalam tidurnya.
Tidak. Ibu bahkan tak pernah kelihatan lelah di malam hari. Saat semua aktivitas seharian yang menguras kekuatan fisiknya berlalu. Ibu selalu kelihatan sangat kuat. aku harus setangguh Ibu.
***
Siang itu aku tertunduk malu. Atas nilai di lembar jawaban kuis fisika dasar pertamaku. Berlanjut dengan nilai di lembar jawaban kuis fisika matematika –yang juga- milikku.
Kedua bola mataku terus memandang selembar kertas lusuh, kertas polio bergaris itu bertuliskan nama dan nilai Kuis Fismat ku, dua pekan lalu. Meskipun banyak teman yang berkata bahwa nilai kuis bukanlan tanda kiamat, namun bagi ku, nilai yang aku dapatkan itu adalah nilai terburuk semenjak aku masuk dalam dunia pendidikan. Tangan kananku perlahan mengepal, semakin kuat dan akhirnya mampu membuat kertas itu tak beraturan. Aku malu dengan orang tuaku seandainya mereka tau hal ini. Terlebih kepada Ibu.
Rasanya semakin berat saja langkah ini. Semangat belajar yang dulu menggebu, kini mengalami perlambatan. Kusandarkan tubuhku pada dinding di tempat favoritku. Di salah satu mozaik indah masjid Al-Wasi’i. Berusaha kuselami jiwaku, pikiranku kembali ke realita beberapa bulan lalu.
“Ibu , Ulan pamit …”
Aku memeluk Ibu, beberapa lama. Menikmati suasana yang tercipta tanpa kata-kata. Seperti tak punya kekuatan untuk menatap mata Ibu, yang pasti kini berkaca-kaca. Tekadku sudah bulat.
Aku mulai tenang, Ibu dihadapanku dan Bapak yang untuk pertama kali meledekku “Udah jadi mahasiswa kok malah nangis”. Aku tersenyum kaku .
“Hati-hati ya, mbak !” nasihat Ibu.
Suara bapak juga terdengar lembut namun tegas “Belajar yang bener ”.
Aku mengangguk. Mencium tangan bapak . Lalu mencium pipi Ibu.
Suara adzan ashar menyadarkanku dari lamunan. Kenangan haru yang indah. Batinku.
Bergegas aku mengambil air wudhu. Bersiap untuk mengadu pada Robb-ku. Menenangkan jiwaku.
***
“Gimana hasil SBMPTN nya mbak,,,?” sapa Ibu ketika aku pulang dari warnet.
“hmm…mmm… Ulan gagal bu. Ngga diterima di pilihan pertama..” sahutku lesu.
“Gagal diterima di fakultas teknik I*B ?? “ tanya Ibu.
Aku mengangguk dalam kegalauanku.
“Mbak , tidak semua yang kita anggap baik , baik juga menurut Allah. Dan tidak semua yang kita anggap buruk, buruk juga dimata Allah. Memang … awalnya usaha kita yang menentukan. Tapi ingat, ada kehendak Allah yang menakdirkan. Sekarang lebih baik kita bersyukur sama Allah, atas hasil yang Allah tetapkan.” Nasihat Ibu lembut.
“Walaupun tidak jadi enggineer.. mbak harus bisa mendidik calon-calon enggineeer. Menjadi guru itu bahagia. Bahagia di dunia dan InsyaaAllah bahagia di akhirat. Balasan dari amal Jariah melalui tarbiyah.” Sambung Ibu sambil membenarkan jilbab hitamku.
Ah…lagi-lagi percakapan dengan Ibu bertepatan dengan hari pengumuman SBMPTN itu terus teringang di telinga ku, terngiang tepat setelah aku melaksanakan sholat ashar .
Aku mulai menyadari, kegagalan dan kejenuhanku dalam waktu dekat ini adalah buah dari kurangnya keikhlasanku. Menerima takdir untuk menjadi calon guru. Aku menyesal dengan ketidakikhlasanku, Aku memiliki kesempatan untuk bisa berkuliah di jenjang ini. Tapi semangatku minim. Berbeda dengan Ibu, yang tidak memiliki kesempatan ini. Hanya saja, Ibu tetap bersemangat untuk menjadi guru . Kadar lelahku , belum seberapa dibandingkan dengan kadar lelah Ibu. Tapi mengapa aku terlalu cepat mengeluh. Aku harus keluar dari zona aneh ini. Zona ketidakikhlasan dan kejenuhan.
Biiznillah ,di sinilah Aku berada. Di FKIP Pendidikan Fisika UNILA. Mencoba bertahan dan menyerang dengan segenap kemampuan yang ada. Merangkai jalan menuju cita-cita baru. “Menjadi guru yang tulus dan penuh dedikasi. Menjajakan ilmu kepada anak-anak yang terpaksa menjadi bodoh karena kondisi”.
Ibu adalah salah satu inspirator terhebat dalam hidupku.Aku harus setangguh Ibu.Jazaakillahu khoir Ibu. Semoga Allah memuliakanmu .. Ammiin Allahumma Aamiin.

comments

 

Berita Terkait :