Home » Breaking News » Lomba Puisi dan Cerpen UKM Birohmah Unila tentang “Asiknya Berjilbab” : Artikel Tulisan Berjudul “Titik Temu” Oleh Marlia Alvionita, Mahasiswi Semester 4 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Lampung

 
 

Lomba Puisi dan Cerpen UKM Birohmah Unila tentang “Asiknya Berjilbab” : Artikel Tulisan Berjudul “Titik Temu” Oleh Marlia Alvionita, Mahasiswi Semester 4 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Lampung

 

RSS Berita Kampus

  • 70.000 LJUN Telah Dipindai Unila April 16, 2014
    (Unila) : Koordinator Tim Pemindaian Hasil Ujian Nasional (UN) SMA se-Provinsi Lampung Muhamad Komarudin, S.T.,M.T., mengatakan hingga hari ini (16/4), pukul 11.00 WIB, lebih dari 70 ribu Lembar Jawaban Ujian Nasional (LJUN) sudah dipindai. “Kita sudah menambah lagi scanner dari semula 8 unit, sekarang menjadi 12 mesin pemindai. Jumlah ini relatif sudah menc […]
    Hisna Cahaya
  • Unila Komit Garap PDD Jadi AKN April 16, 2014
    (Unila) : Pembantu Rektor I Bidang Akademik Universitas Lampung (Unila) Prof. Dr. Ir. Hasriadi Mat Akin, M.P., menyatakan kesungguhan pihak Unila dalam pelaksanaan program Pendidikan di Luar Domisili (PDD) yang diselenggarakan di Kabupaten Pringsewu dan Mesuji. Menurutnya, program ini tak hanya dapat meningkatkan Angka Partisipasi Kasar (APK) di Provinsi Lam […]
    Hisna Cahaya
  • Unila Targetkan Pindai 500.000 LJUN dalam 10 Hari April 14, 2014
    (Unila) : Tim pemberkasan dan pemindaian Lembar Jawaban Ujian Nasional (LJUN) Universitas Lampung (Unila) menargetkan pemindaian 500.000 LJUN SMA/sederajat di Lampung rampung dalam 10 hari ke depan. Hal ini lebih cepat dari target nasional yang ditetapkan akhir April mendatang. Koordinator Tim Pemindaian Ujian Nasional Lampung Muhamad Komarudin, S.T.,M.T., m […]
    Hisna Cahaya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

<<<>>>

Terlalu banyak alasan yang ditawarkan ataukah pembenaran karena wangi dunia dan hiruk pikuknya masih begitu silau untuk ditinggalkan ?

Masih begitu mudah kata nanti, esok dan alasan manis terbungkus kiasan-kiasan yang dilontarkan dengan nada tak ikhlas, kepayahan, dan dengus bosan dibelakang.
Itu membelenggumu, kian jelas racau setan untuk melepas segala perlindungan.
Sementara tidakkah ingat yang Alloh janjikan lebih dari sekedar sepoi nikmat angin berhembus menyentuh kulit, lebih manis dari sekedar tatapan iri dan lontaran puja puji, lebih syahdu dari sekedar mendapat perhatian yang tak berdasar ikatan.
Maka nikmat manakah yang kau dustai ? Terulang untuk diulang, berkali-kali untuk dipahami, hingga hapal bukan hanya untuk diucap

Tidakkah merasa bahwa itu tanya untuk kita ? Untuk tiap inci kulit yang terburai tanpa penutup, untuk tiap bubuk gincu warna-warni ditingkahi kuas kecil terkembang diatas pipi, untuk tiap helai rambut nan suci yang tak terhijabi.
Kelak dengan inikah kita menghadap ? dengan keteledoran dan keacuhan atas segala pinjaman.

Karena Ia mencintai kita. Karena Ia zat yang mencipta, memberi rasa, raga dan harta hingga kini dengan segala ciptaNya, tak malukah kita berlenggok membuang muka atas firman Nya juga nasehat Nabi Sang pembawa risalah cinta.
Maka nikmat manakah yang kau dustai ? Seakan mencubit, menjewer berkali-kali telinga manusia yang masih ribut, kusuk masai dengan berjuta-juta uang dikeluarkan demi permak sana sini atas maha indah ketetapan Alloh yang telah terjadi. Tanya atas segala tangis karena merasa kekurangan, keengganan atas begitu banyak aturan.

Ia masih menunggu, mencinta dan menjaga, tanpa kita ingat, tanpa kita sembah tanpa pernah kita cinta. Pernahkah ? Jika masih berat untuk menjalankan perintah, jika syirik-syirik kecil tlah tanpa sadar tengah kita peluk dengan mesra, menyembah dunia, menyembah kerja, harta dan nilai A semata, mengorbankah hati, nurani dan kadang harga diri.

Tidakkah kita merindu titik temu ? Tidakkah kita rindu lantunan doa dalam sujud syahdu ? Tidakkah segala kemewahan itu membelenggu, semu dan menjadi sederhana itu nyata, tanpa bisik cerca yang harus kita sita.
Tidakkah segala ketetapanNya menjaga, bukan menyiksa ? Karena kita manusia, merindu, menghamba itu kebutuhannya, hanya kadang harta, rupa dan segala keelokkan dunia mengaburkan jalan menuju titik temu, tempat kita merindu dan asyik syahdu menghamba, bersujud dan terhijab.

Marlia alvionita bukan Marlina atau Maria, dengan status pendidikannya sebagai mahasiswi semester 4 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, UNILA.
Menulis untuk berbagi kata, makna, dan ungkapan sederhana. Sedang selalu berproses menjadi pembelajar yang sabar, hingga dewasa kelak dengan penuh asa.
Mencintai bercerita dan membaca.
Bisa ditemui untuk berbagi dan diskusi di akun facebook dengan nama akun Marlia Alvionita, twitter @marliaalvionita, email marlia.alvionita@yahoo.com dan blog baru dengan pemaknaan berbagi yang lebih sederhana dan meremaja di simpulkecil.blogspot.com

 

No comments

Be the first one to leave a comment.

Post a Comment


 


5 + 5 =