Money Politic, The Real Service?

 

“Urusan membangun itu kan tugas wajib pemerintah, jadi kalo yang belum jadi pemerintah alias lagi nyalon ngasih duit ke kita, itu baru melayani, toh dia bukan siapa-siapa kita, tapi dia mau ngasih, yang kayak gini yang perlu kita dukung, lagi pula dia tau yang kami butuhkan, urusan dapur mas, urusan dapur!”. Begitulah pungkas Bang Wan sopir angkot Tanjung Karang-Rajabasa, entah itu selorohan atau seriusan, lumayan membuat keningku mengkerut mendengar statement semacam itu. lugas, tapi tampak dipaksakan.

Duduk dibangku depan dekat sopir sambil bercerita memang asyik, untuk menemani perjalanan menuju kampus. Entah dimulai darimana cerita kami tadi, tiba-tiba muncul statement itu dari seorang Bang Wan. jangan-jangan semua warga berpikir seperti ini?. Wah bahaya nih. Bisa rusak dunia perpolitikan negeri ini. Gerutuku dalam hati.

 

Sumber gambar: www.peristiwa.co

Politik uang kembali menjadi isu perjalanan demokrasi Indonesia, begitu banyak bertebaran rupiah demi rupiah untuk memuluskan jalan ke singgasana kekuasaan. Tak melulu dalam bentuk lembaran, politik uang bermetamorfosis menjadi benda-benda yang dibutuhkan masyarakat; jam dinding, bingkisan, sembako hingga kado menjadi media politik yang dipakai oleh politisi kita. Entah, sok tahu atau memang benar tahu, mereka memberikan “insentif” ini seakan mereka tahu apa yang masyarakat butuhkan. Atau hanya sekedar menjadikan rakyat sebagai mainan dalam sebuah kompetisi yang seharusnya disikapi dengan serius. Setelah dihitung-hitung, apa yang mereka berikan bukanlah apa-apa dibandingkan kebutuhan rakyat sesungguhnya, maka jelas sudah, mereka ini sok tahu.

Sejatinya kompetisi politik dimaksudkan untuk mencerdaskan pola berpikir politik masyarakat, dengan pilihan rasional yang berawal dari nurani. dari sanalah kemudian masyarakat tercerdaskan oleh dinamika politik yang berlangsung. Namun apa daya dikata, rakyat kita terlalu miskin untuk memikirkan itu semua, yang penting hidup enak hari ini. Susah besok kita tunggu siapa yang ngasih. Suara rakyat memang terlalu murah untuk sekedar urusan dapur, tapi nampak begitu real dibutuhkan rakyat, apakah itu soal kepahaman tentang arti dari sebuah pemberian atau tuntutan hidup yang tak bisa dikompromi. Cara bermain seperti inilah yang akan berdampak negatif pada pelayanan publik-setengah hati, sarat korupsi. Barangkali cara yang paling efektif untuk memberantas keterbutuhan warga terhadap uang sogok ini adalah pelayanan yang sesungguhnya, tanpa pencitraan. Biarkan rakyat mencerna arti dari sebuah pemberian, bukan malah tak merasakan pengabdian dari pemimpin mereka, yang hangus ketika serangan fajar money politic bergemuruh di ruang tamu mereka.

Dari sekian banyak upaya money politik yang terjadi, disadari atau tidak, sebagian masyarakat kita sudah semakin cerdas dalam menentukan pilihan, bahkan politik uang takkan berguna sama sekali untuk meraup suara dalam sebuah kontestasi. Money politic is not service, karena di akhir obrolan saya sama Bang Wan, beliau bilang, “Owalah mas-mas itu tadi saya bercanda aja, lha kita sudah paham siapa yang baik atau cuman ada maunya aja, takut kalau dipimpin sama orang kayak gitu, yang dia kasih gak sebanding dengan yang dia tilep“. timpalnya sambil menertawakan muka saya yang tampak serius. Ayo Gebrak Pemilu 2014. Memilih dengan cerdas!

Rilis tulisan oleh: Ahmad Risani (Ketua BEM FKIP 2013/2014)

Redaktur dan editor tulisan: Wahid Biyobe

comments

 

Berita Terkait :