Surat Kecil Untuk Teroris

 

170

Akhir-akhir ini Indonesia kembali berduka, kecaman terorisme kembali menguak dan membawa korban jiwa. Berita semakin panas dengan aksi media yang tidak memberi kepastian, dan dikemas sesuai dengan tajuk pembelaannya. Netizen dibuat berpikir sekali baca, menyimpulkan sebuah perkara tanpa melihat seluk beluk dan asal-usulnya. Mengecam dan menindas beberapa kelompok tanpa berpikir akibatnya.

Indonesia negara dengan beragam budaya,  perbedaan yang selalu menjadi sasaran empuk mereka yang berusaha memecah belah persatuan. Tak heran masalah satu reda lalu muncul kembali masalah yang lainnya, dan urusannya masih sama perbedaan diantara kita. Akibatnya berimbas pada semua dimensi kehidupan yang beragam. Serta memojokkan salah satu golongan.

Bagaimana jiwa dan raga ini tak geram melihat perilakumu yang tidak mencerminkan jiwa kemanusiaan. Masih pantaskah kami menyebutmu dengan sebutan manusia yang beriman?. Sungguh Indonesiaku adalah kesempurnaan yang memiliki 5 sila dasar sebagai pedoman, yang mana didalamnya memberi makna dan pengertian bahwa manusia hidup harus selalu dibekali dengan iman. Masihkah engkau ingat? Saat pertama kali mulutmu ungkapkan ikrar untuk menyembah tuhan yang maha esa untuk jadi panutan. Masihkah, kau buka lembaran kitab suci yang selalu memberikan pelajaran kehidupan yang tidak pernah sekalipun mengajarkan mengungkapkan berbagai macam ujaran kebencian atau penindasan terhadap sesama. Biarlah semuanya menjadi urusan sang maha sempurna. Bukankah tak ada sama sekali hak bagi kita untuk menghakimi itu didunia.

Duhai engkau yang disebut-sebut sebagai teroris, tak sadarkah kau rusak bangsa ini dengan perilakumu yang tak beradab. Bahkan tak ada sedikitpun jiwa yang mampu menjelaskan dari mana sebenarnya engkau dibuat. Dari golongan apakah sebenarnya kehadiranmu sehingga engkau begitu tega melenyapkan nafas-nafas yang menginginkan perdamaian dalam kehidupan.

Kini kehadiranmu meresahkan semua dimensi, berjalan tak lagi aman, berpakaian takwa dianggapnya orang yang mencurigakan, membawa pakaian yang berbungkuskan kerapatan dianggapnya sebagai ancaman. Pemikiran terganggu tanpa jalan kepastian. Itukah yang kau inginkan?.

Indonesiaku sesungguhnya nafas berjuanganmu tak akan pernah berhenti. Sebelum kehancuran benar-benar menghampiri karena itulah tujuan sang pengrusak yang selalu mengintai. Persatuanmu diporak-porandakan, kepercayaanmu dibuat saling menghadang, persaudaraan dibuatnya saling bermusuhan. Karena itulah tujuan mereka yang tak bisa dipertanggungjawabkan.

Hari ini kembali terjadi pengeboman yang mengatasnamakan jihad. Atas nama kebenaran. Masihkah kau berpikir? Kebenaran seperti apa yang bisa diakui, jika dilandasi kekerasan? bahkan agama adalah sesuatu yang sakral, pemaknaannya adalah syumul yakni kesempurnaan. Bahkan bangsa ini begitu toleran akan perbedaan. Masihkah terngiang, dibenak kita, akan bunyi sila pertama pancasila? Ketuhanan yang maha esa, ya setiap warga negara diberikan kebebasan untuk memilih meyakini agama dan kepercayaanya sebagaimana tertuang dalam pasal 29 UUD NRI 1945. Masihkah tidak cukup? Indonesia juga memiliki semboyan dasar atas bertindak yang kita kenal dengan “Bhineka Tunggal Ika” yakni berbeda-beda tetaplah satu jua. Masihkah itu tak meyakinkanmu ?

Wahai saudaraku Indonesia ialah negara yang cinta damai, bahkan lahir supremasi hukum yang menyetarakan kedudukan warga negara yang setara dihadapan hukum. Tidak ada yang membedakan asal-usulmu, jika memang engkau tercatat resmi sebagai warga negara Indonesia tercinta ini. Tidak cukupkah pengorbanan, era reformasi?, masih kurangkah pengorbanan masa terjadinya trisakti?

Indonesia memberikanmu hak, kebebabasan juga kewajiban yang harus dipenuhi. Sebagaimana dengan jelas termaktub dalam pasal 28 UUD NRI 1945.  Namun engkau harus memahami bahwa kebebasan yang kita miliki selalu berbanding lurus dengan kebebasan orang lain. Bukan membatasi namun jiwa juga harus tahu diri, manusia hidup tidak akan mampu sendiri.

Untukmu yang mengaku berjihad, jihadmu tak harus melukai hati-hati kami, jihadmu tak perlu dengan mengakhiri hidup dengan mengenaskan tanpa dasar ideologi. Karena percayalah hati yang keras tak akan mampu dilubangi dengan batu, tapi dengan lembutnya tetesan air yang mengalir tanpa menggerutu.

Zulaikah
PPKn, 2015

comments

 

Berita Terkait :