Teladan dalam Kepasrahan pada Allah

 

trust-in-allah

Orang yang ingin mengetahui hakikat ridha pada ketentuan Allah Ta’ala dan cara munculnya sikap tersebut sebaiknya mulai mengkaji perikehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam. Karena, sesudah sempurna pengetahuannya tentang Allah, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa Sallam pun meyakini-Nya sebagai Pemilik, dan seorang pemilik berhak melakukan apa saja terhadap apa-apa yang dimilikinya.

Beliau juga yakin bahwa Dzat Yang Mahabijaksana tidak akan membuat sesuatu sia-sia. Karena itu, beliau pun pasrah seperti seorang budak yang pasrah kepada majikan yang bijaksana, lalu berbagai keajaiban pun diberikan kepadanya. Separah apa pun terpaan takdir terhadapnya, beliau tetap tabah, tidak mengeluh dan tidak pernah mengatakan, “Andai saja yang terjadi adalah begini.”

Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam tegar menghadapi ketetapan-ketetapan takdir seperti ketegaran gunung menghadapi terpaan badai.

Pemimpin para rasul itu Shallallahu ‘alayhi wa Sallam diutus kepada umat manusia sendirian ketika kekafiran telah memenuhi semesta. Beliau berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lain dan bersembunyi di rumah Khaizuran. Orang-orang kafir memukulinya jika beliau keluar rumah hingga tumitnya berdarah. Kotoran binatang dibuang ke punggungnya tetapi beliau tetap diam dan tenang. Beliau pergi di setiap musim haji dan menawarkan, “Siapa yang mau memberiku tumpangan ? Siapa yang yang mau menolongku ?” Beliau meninggalkan Mekah dan tidak bisa kembali ke sana kecuali dengan perlindungan orang kafir. Walaupun begitu, jiwa beliau tidak pernah mengeluh dan hati beliau tidak pernah protes.

Andai saja hal-hal semacam itu menimpa orang lain, tentu ia akan langsung berdoa, “Duhai Tuhanku, Engkau penguasa seluruh makhluk dan kuasa memberi pertolongan, mengapa aku mesti terhina ?” Kalimat seperti inilah yang dikatakan Umar bin Khaththab radhiya ‘anhu saat penandatanganan Perjanjian Hudaibiyah, “Bukankah kita ada di pihak yang benar ? Mengapa kita mesti terhina karena agama kita ?” Maka beliau menjawab, “Aku adalah hamba Allah dan Dia tidak akan menelantaranku.”

Jawaban beliau ini mencakup dua hal yang telah kusebutkan. Sabda beliau’aku adalah hamba Allah’ adalah pengakuan akan kepemilikan Allah, beliau seolah-olah mengatakan, “Aku adalah milik Dzat yang berhak melakukan apapun terhadap diriku,” sedang sabdanya ‘Dia tidak akan menelantarkanku’ menjelaskan kebijaksanaan Nya, dan Dia tidak mungkin melakukan sesuatu secara asal-asalan. Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam telah diuji dengan kelaparan, lalu beliau mengikatkan batu di perutnya, gigi seri beliau dipatahkan dan pamannya dicincang tetapi beliau tetap diam, beliau dianugerahi anak namun kemudian ditarik (diwafatkan). Beliau mencari hiburan dari Hasan dan Husain tetapi beliau justru diberitahu tentang apa yang akan terjadi pada mereka.

Rasa sakit dan kematian menghampirinya dengan sangat keras, tetapi beliau tetap tabah dan tenang, kemudian ruhnya yang mulia dicabut dari tubuhnya ketika beliau berbaring dalam pakaian yang kasar, dan ketika itu keluarganya tidak punya minyak untuk menyalakan lampu.

Tindakan yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam adalah tindakan seseorang yang benar-benar telah mengetahui Allah dan makhluk Nya, dan karenanya seluruh ambisinya menjadi punah, dan semua protesnya masjadi lenyap, sehingga cintanya pun hanya tertuju pada sesuatu yang terjadi.

 

Sumber : Buku Shaid Al Khatir, Nasihat Bijak Penyegar Iman oleh Ibnu Al Jauzi

Memulai Diskusi dan Beri Komentar Artikel di Atas:

comments