Unila Rawan Curanmor, Civitas Akademik Diminta Waspada

 
Area Parkir FISIP unila, Bayu/Tribunlampung

Area Parkir FISIP Unila, Foto Ilustrasi: Bayu

Meningkatnya kasus pencurian motor (Curanmor) yang akhir-akhir ini marak terjadi di beberapa Fakultas di Universitas Lampung membuat resah seluruh civitas akademika, meliputi dosen, pejabat birokrasi, mahasiswa dan stake holder terkait lainnya.

Dalam sebulan ini, terhitung sejak bulan Oktober hingga November 2016, kasus pencurian motor dan helm semakin meningkat, terutama bagi fakultas-fakultas yang belum menerapkan sistem parkir yang menggunakan kartu khusus.

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), merupakan fakultas paling rawan dengan tindak pencurian motor, bahkan helm yang sudah dikunci/dicantol pada jok motor tetap saja dicuri, termasuk helm-helm pengendara yang diletakkan sembarangan di atas kaca spion. Selain itu, gedung Graha Kemahasiswaan yang letaknya berdekatan dengan fakultas pertanian juga semakin rawan dengan aksi curanmor tersebut.

Salah satu mahasiswi S2 Universitas Lampung, Dwi Febri Hidayati mengaku telah kehilangan helm kendaraan yang iya kunci di bagian jok motor miliknya. “iya nih.. helm ilangan, bukan hanya yang diletakkan di atas spion, bahkan yang sudah digantung (cantol) di jok motor juga bisa hilang. Waspadalah..waspadalah..”, tandasnya.

Risko Apriandi (Pendidikan Kimia’12) mengaku muak dengan sistem keamanan di kampus Universitas Lampung karena dinilai hampir setiap hari mahasiswa kehilangan motor.

Dani Windarto (Prodi BK Unila) juga mengeluhkan bahwa sudah satu bulan ini telinganya hampir terbiasa dengan berita kehilangan di salah satu fakultas, graha kemahasiswaan, maupun halaman parkir. Rata-rata kendaraan yang dicuri adalah sepeda motor dan helm bagus milik pengendara.

Beberapa mahasiswa mengaku kecewa dengan pihak birokrasi yang seolah tidak serius menangani masalah keamanan di lingkungan Unila ini, namun Birokrasi juga ganti menuding bahwa kehilangan motor diakibatkan oleh kesalahan mahasiswa yang kurang disiplin dalam menaati aturan perpakiran motor seperti tidak mengunci ganda kendaraan, parkir di sembarang tempat, tidak mengamankan motor ketika sudah lewat dari jam 17.00 wib

Sudah banyak kajian dilakukan, perbaikan pun sudah banyak digalakkan hampir di semua faultas di Unila ini, namun kehilangan masih saja terjadi. Bahkan, seolah perbaikan-perbaikan, gerakan, dan usaha-usaha yang dilakukan tidak memberikan efek jera bagi si pencuri motor.

Sekarang pertanyaaannya adalah apa usaha yang bisa dilakukan untuk mengurangi intensitas kehilangan yang terjadi di Unila? Jawabannya adalah harus adanya kolaborasi antara pihak birokrasi dengan mahasiswa yang bersangkutan. Persoalan ini tidak bisa diselesaikan oleh pihak birokrasi saja, namun secara teknis butuh kerjasama antara pihak birokrasi dengan seluruh civitas akademika Universitas Lampung, baik itu dosen, karyawan, mahasiswa. Percuma saja fasilitas lengkap tapi mahasiswanya sendiri tidak sayang akan barang milik pribadinya, tidak berhati-hati saat memarkirkan kendaraan miliknya. Toh juga pihak Unila tidak mewajibkan membawa motor bagi mahasiswa. Bahkan, ingat sekali ketika mahasiswa baru dilarang membawa motor sampai satu semester, kecuali pihak Unila mewajibkan membawa motor bagi seluruh mahasiswa, berarti ia harus bertanggungjawab atas keputusan tersebut. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa motor adalah kebutuhan yang penting pada saat ini.

Untuk pemilik kendaraan bermotor, tambahkan kunci ganda bagi kendaraaan, serta taati peraturan perparkiran yang telah dibuat oleh pihak birokrasi. Dan yang paling penting adalah amankan kendaraan anda di tempat-tempat yang mudah diawasi. terutama pada saat diatas jam 17.00 wib. (MCB).

comments

 

Berita Terkait :